Ada Iklan di WhatsApp, Pengguna Tidak Senang

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Para pengguna WhatsApp akan dapat melihat perubahan besar dalam aplikasi pesan instan yang paling populer di Android dan iOS tersebut, dan mereka tidak akan senang melihat perubahan tersebut.

Saat ini WhatsApp merupakan aplikasi pesan instan terpopuler di dunia dengan pengguna lebih dari 1,5 milyar. WhatsApp telah menjadi milik Facebook yang telah dibeli pada tahun 2014 dengan nilai transaksi lebih 1,5 milyar dolar.

Tidak seperti aplikasi jejaring sosial lainnya, Facebook dan Instagram, WhatsApp sejauh ini tetap sebagai aplikasi tanpa iklan. Namun, sepertinya sebentar lagi akan berubah. Pada awal minggu ini, ada spekulasi yang beredar menyelimuti aplikasi pesan instan tersebut, setelah pendirinya Jan Koum meninggalkan Facebook.

Dan sekarang wakil presiden Facebook untuk produk aplikasi pesan instan, David Marcus, mengatakan bahwa WhatsApp akan lebih terbuka bagi para pengiklan.

“Apabila menyangkut iklan, kami jelas semakin terbuka dengan WhatsApp,” ujarnya ketika berbicara pada CNBC.

“Kami akan memiliki kemampuan yang memungkinkan perusahaan lebih besar, tidak hanya usaha kecil, untuk dapat mengintegrasikan API yang baru untuk dapat mengirim dan menerima pesan dengan pengguna di platform WhatsApp,” jelasnya.

Sementara itu, para analis juga telah memperkirakan bahwa WhatsApp lebih memungkinkan untuk menampilkan iklan dengan sepeninggalnya Jan Koum dari WhatsApp.

Bahkan The Washington Post melaporkan adanya dugaan perbedaan pendapat antara Jan Koum dan Facebook mengenai privasi pengguna dan pelemahan yang dilakukan pada enkripsi WhatsApp, dan hal inilah yang diperkirakan menjadi menyebabkan kepergiannya dari Facebook.

Di dalam sebuah postingan blog yang ditulis oleh Jan Koum di situs web WhatsApp, ia menjelaskan alasan kenapa WhatsApp sejauh ini bebas dari iklan.

Saat ini perusahaan mengetahui segala sesuatu tentang pengguna WhatsApp, teman-teman mereka, minat mereka, dan mereka menggunakannya untuk menjual iklan. Ketika kami memulainya tiga tahun lalu, kami ingin membuat sesuatu yang bukan hanya sekedar melihat pendapatan iklan.

Tujuan Kami membangun layanan aplikasi pesan instan yang ingin digunakan orang. Oleh karena itu, hal tersebut berhasil dan menyelamatkan uang pengguna dan membuat hidup mereka lebih baik melalui sebuah cara yang kecil.

Sebelumnya pun kami tahu apabila kami dapat menagih pengguna secara langsung kami dapat melakukan hal itu. Namun, kami juga mengetahui apa yang kami bisa melakukan dari kebanyakan orang ingin lakukan setiap hari yaitu menghindari iklan.

Tidak ada yang bersemangat untuk melihat lebih banyak iklan, dan tidak ada yang tidur untuk memikirkan iklan apa yang akan mereka lihat besok. Karena kami mengetahui orang-orang bersemangat tentang siapa yang telah mereka ajak bicara hari itu dan juga kecewa telah berbicara dengan seseorang yang tidak mereka kenal.

Untuk itu, kami ingin WhatsApp menjadi produk yang membuat penggunanya tetap terjaga dan selalu ingin dibuka oleh para penggunanya setiap pagi hari. Jadi tidak ada yang bangun dari tidur, membuka WhatsApp dan melihat banyak iklan.(hh)

Sumber