Ancaman Baru Internet, Kenaikan Permukaan Laut

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Mungkin sudah banyak yang membaca iklan tentang komputasi “cloud” atau awan, walaupun secara fisik internet itu koneksinya di darat. Seperti pusat data dibangun di atas tanah atau darat, dan sebagian besar elemen fisik internet seperti kabel yang menghubungkan rumah ke layanan internet dan untaian serat optik yang membawa data dari satu kota ke kota lain, ditanam di saluran bawah tanah. Infrastrukur itu telah bekerja cukup baik selama bertahun-tahun, tetapi mungkin kurang dari satu dekade perlu ada penyesuaian akibat perubahan iklim global.

Misalnya saja seperti di Amerika, sebagian besar infrastruktur internet disana dibangun pada tahun 1990-an dan 2000-an untuk melayani pusat populasi besar yang di pesisir pantai. Ketika koneksi baru dibangun, perusahaan membangunnya di sepanjang jalan dan rel kereta api, yang sering kali berdekatan dengan garis pantai.

Pemetaan terbaru dari koneksi internet oleh ilmuwan komputer Paul Barford dan Ram Durairajan mengidentifikasi berapa banyak lokasi jaringan utama yang berada dekat dengan pantai. Keduanya saat ini tengah mempelajari risiko terhadap internet dengan adanya kenaikan permukaan lautan.

Pendekatan dasarnya sederhana, gunakan peta perangkat keras internet yang ada, kemudian bandingkan dengan peta kenaikan permukaan laut, sehingga dapat diproyeksikan untuk melihat di mana infrastruktur jaringan yang mungkin sudah berada di bawah air pada tahun-tahun mendatang.

Saat ini sebagian besar koneksi internet sebenarnya sudah berada di bawah air, salah satunya jaringan fisik kabel bawah laut yang membawa sejumlah besar data antar-benua dalam milidetik. Kabel-kabel itu dilindungi dengan baja keras dan pelapis karet untuk melindungi mereka dari lautan.

Tentunya kabel-kabel itu akan menghadapi kondisi yang sangat ekstrim ketika berada di bawah permukaan air. Kondisi air bisa membeku dan mencair, sehingga dapat merusak atau bahkan memutus kabel. Selain itu, dapat juga menimbulkan korosi pada elektronik dan mengganggu sinyal serat optik.

Memang hasil penemuan itu tidak terlalu mengejutkan, tetapi cukup mengkhawatirkan. Koneksi internet sangat rentan terhadap kerusakan akibat kenaikan permukaan laut yang terjadi sekarang hingga tahun 2030. Ribuan kilometer kabel yang sekarang aman di daratan akan berada di bawah permukaan air.

Studi tersebut juga menemukan bahwa risiko terhadap infrastruktur internet tidak sama di mana-mana. Ada negara yang kota-kotanya sangat rentan, seperti negara yang berada di pesisir pantai Atlantik yang relatif dekat dengan Greenland, yang memiliki efek regional pada permukaan laut.

Risiko kenaikan permukaan air laut ini tidak hanya berdampak pada layanan internet di Amerika saja. Jadi satu hal terpenting dari ancaman ini adalah perusahaan yang mengoperasikan kabel dan fasilitas ini dapat memilih untuk memindahkannya ke tempat yang lebih aman

Rencana selanjutnya adalah mempelajari pengaruh potensial terhadap jaringan dan penggunanya. Untuk saat ini, masih bisa dikatakan aman untuk layanan internet di beberapa negara. Namun, perlu dilakukan adaptasi terhadap kenaikan permukaan laut.(hh)

Sumber