Messenger Lokal Berperan dalam Kedaulatan Data Negara

Home Forums Aplikasi & Konten, Industri Manufaktur, Community Development dan Program Strategis Messenger Lokal Berperan dalam Kedaulatan Data Negara

This topic contains 0 replies, has 1 voice, and was last updated by  Muhammad Sandikapura, 2 years, 3 months ago.

Viewing 1 post (of 1 total)
  • Author
    Posts
  • #15504

    Sumber : https://id.techinasia.com/litebig-aplikasi-berkirim-pesan-karya-anak-bangsa

    Tawarkan Keamanan Data, Aplikasi Chatting Lokal liteBIG Pede Bersaing dengan WhatsApp

    liteBIG

    (TechInAsia) Kalau saya bertanya kepada seorang teman, aplikasi berkirim pesan apa yang ada di smartphone mereka, jawabannya pasti tidak jauh dari WhatsApp, LINE, dan BBM—atau iMessage jika teman saya menggunakan perangkat iOS. Alasannya sederhana, karena kebanyakan dari mereka memang hanya tahu aplikasi-aplikasi messenger populer buatan luar negeri tersebut. Sangat disayangkan, karena di toko aplikasi mobile, khususnya Android, sudah ada beberapa aplikasi berkirim pesan karya anak bangsa.

    Belum lama ini, Tech in Asia menemukan aplikasi berkirim pesan buatan lokal. Namanya adalah liteBIG Messenger. Aplikasi ini sudah tersedia di Google Play sejak bulan Agustus 2014, dan telah diunduh sebanyak 200.000 kali. Menurut CEO dan Founder liteBIG, M. Tesar Sandikapura, jumlah pengguna aktif aplikasi buatan timnya sekitar 10 persen dari jumlah unduhan tersebut.

    Masih kecil memang. Namun, mengingat liteBIG belum secara resmi memperkenalkan aplikasi ini ke masyarakat, jumlah pengguna aktif tersebut tergolong langkah awal yang membanggakan. Tesar sendiri mengatakan kalau acara grand launching liteBIG akan diadakan dalam waktu dekat di tiga kota besar Indonesia, dengan tujuan aplikasi ini bisa diketahui keberadaannya oleh khalayak yang lebih luas.

    Dirancang untuk melindungi data pengguna

    Tesar mengatakan, alasan utama timnya membuat liteBIG, yang ia sebutkan sebagai gabungan antara aplikasi berkirim pesan dengan media sosial, adalah karena ingin menjaga “kedaulatan data” dari bangsa Indonesia. Menurutnya, dengan membuat aplikasi berkirim pesan ini, pihaknya bisa menjamin agar data-data pribadi dapat terjaga dengan baik dan tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak asing untuk kepentingan pribadi mereka.

    Menurutnya, sudah sepatutnya masyarakat menggunakan produk buatan lokal. “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, tapi sepertinya saat ini masih hanya bisa menjadi target pasar dari banyak aplikasi asing, terutama aplikasi media sosial. Tanpa kita sadari, semua rahasia bangsa ini dapat mudah dimanfaatkan oleh bangsa lain, dan ujung-ujungnya bangsa ini juga yang akan dirugikan, karena mereka sudah lebih siap dibanding kita. Sementara di era informasi seperti sekarang ini, bangsa yang akan menang adalah bangsa yang bisa menguasai banyak informasi,” jelasnya.

    Karena itu, saat mengembangkan liteBIG, tantangan terbesar yang dihadapi timnya adalah dari sisi teknologi. Tidak hanya ia harus menjaga proses pengiriman pesan yang mulus tanpa jeda atau delay, tetapi juga sisi keamanan data.

    Tesar, yang memiliki pengalaman bekerja di dunia telco, mencoba mengadopsi prinsip kerja mereka. Salah satunya adalah membagi semua load traffic aplikasi ke dalam beberapa sistem, seperti database (engine penyimpanan data), middleware (engine perantara sebagai penghubung antar sistem), dan data protocol (proses pengiriman data). Kebanyakan teknologi tersebut dikembangkan sendiri oleh timnya, sehingga liteBIG tidak bergantung dengan vendor pihak ketiga.

    “Dari sisi security, kami cukup concern dengan hal ini, walaupun sekarang masih terus kami sempurnakan. Yang pasti, kami lakukan aspek security di semua layer, mulai dari device (perangkat pengguna), data protocol, middleware, hingga database. Semua kami lakukan enkripsi, sehingga user akan merasa datanya aman dan terjaga dengan baik,” jelas Tesar.

    Serupa, tapi tak sama

    Lalu, selain teknologi “racikan” sendiri dan jaminan keamanan data pengguna, fitur apa lagi yang ditawarkan oleh liteBIG untuk penggunannya? Tesar mengatakan, fitur-fitur dasar aplikasinya hampir sama dengan aplikasi berkirim pesan populer lainnya.

    Misalnya, fitur autosync yang akan mencari teman yang sudah menggunakan liteBIG, sehingga pengguna tidak perlu menambahkannya secara manual—walaupun fitur menambah teman berdasarkan nama pengguna atau e-mail tetap ada.

    “Dalam waktu dekat, kami juga akan menyediakan fitur mencari teman berdasarkan jarak terdekat,” ujar Tesar.

    Namun, liteBIG punya satu fitur unggulan, yaitu pengguna dapat mengedit atau menghapus pesan yang sudah terkirim. Selain itu, liteBIG dapat digunakan untuk mengirim file apa saja.

    Sedangkan untuk group chat, pengguna dapat membuat grup dengan anggota hingga 1.000 orang. Sebagai perbandingan, batas maksimal group chat di WhatsApp adalah 256 orang, yang merupakan peningkatan dari sebelumnya yang hanya mampu menangani hingga 100 orang.

    Tesar mengklaim, proses pengiriman data bisa lebih cepat, ringan, dan menghemat pemakaian paket data internet. Ini bisa dicapai karena adanya kompresi khusus saat proses pertukaran data.

    Monetisasi dari klien korporasi

    Founder liteBIG

    Selain Tesar, tim liteBIG dihuni oleh dua orang Co-Founder lainnya, yaitu Andreas Harnindito, selaku Group Head Operation, dan Stephen Daniel, selaku Group Head Solution Architect.

    Seperti telah disebutkan di atas, Tesar, yang di waktu senggangnya mengajar IT di beberapa kampus, telah memiliki pengalaman bekerja di industri telco, yang memberinya banyak pengalaman soal enterprise technology yang traffic datanya sangat real-time. Sebelumnya, ia menjabat sebagai manajer infrastruktur di salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia.

    Sedangkan Andreas dan Stephen merupakan rekan satu tim Tesar. Ketiganya bertemu di perusahaan ritel tempat Tesar bekerja. Jika Andreas sebelumnya lebih banyak berkutat di sisi project management, maka Stepehen lebih banyak berkecimpung dengan java core system.

    Tesar mengatakan, saat ini 90 persen pengguna yang mengunduh liteBIG berasal dari Indonesia. Sisanya berasal dari beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Hingga akhir tahun ini, pihaknya berambisi untuk mencapai lima juta pengguna. Untuk mencapai itu, salah satu strategi yang dilakukan liteBIG adalah dengan mendekati komunitas-komunitas besar, yang memiliki jumlah anggota cukup banyak, dan memerlukan aplikasi berikirim pesan.

    “Sementara untuk target jangka panjang, selain merilis aplikasi iOS dan web, adalah melakukan ekspansi ke pasar regional dan dunia,” kata Tesar.

    Seperti aplikasi berkirim pesan lainnya, liteBIG tersedia secara gratis. Tesar mengatakan, pihaknya tidak melakukan monetisasi ke pelanggan biasa, melainkan menyasar pengguna korporasi. Apa yang ditawarkan oleh liteBIG adalah data yang lebih terjamin keamanannya dari sisi klien (on-premise). Selain itu, klien juga bisa melakukan pengubahsuaian sesuai dengan kebutuhan perusahaan mereka.

    “Sekarang sudah ada dua perusahaan yang menjadi klien kami, dan sedang dalam proses dengan satu perusahaan lagi,” tutur Tesar.

    Saat ini liteBIG mendapatkan pendanaan dari join venture yang dilakukan dengan perusahaan IT lokal. Tesar enggan menyebutkan nama perusahaan yang menjadi rekannya tersebut, namun ia mengatakan kalau pendanaannya cukup untuk operasional liteBIG selama beberapa tahun ke depan.

    Dari sisi kompetisi, Tesar mengaku saingan terbesarnya adalah Telegram dan WhatsApp. Alasannya tentu saja karena dua nama tersebut memiliki teknologi yang lebih andal dibandingkan dengan aplikasi berkirim pesan lain yang ada saat ini.

    “Itu dapat kita lihat dari jumlah pengguna mereka yang sudah cukup besar, bahkan hingga mencapai miliaran pengguna,” tutup Tesar.

    Selain aplikasi buatan luar negeri, liteBIG Messenger juga berhadapan dengan beberapa aplikasi berkirim pesan buatan lokal. Sebut saja IYAA Messenger, IMES (Indonesia Messenger), StealthChat, dan Catfiz Messenger.

    StealthChat dan Catfiz masih diperbarui secara berkala oleh developernya. Sementara IYAA dan IMES tampaknya sudah “ditinggalkan,” mengingat tanggal pembaruan terakhirnya masing-masing adalah pada April 2013 dan Juli 2015. Mungkin saja, alasan kenapa aplikasi berkirim pesan lokal kurang populer di mata pengguna Indonesia adalah kurangnya komitmen dari sang developer, baik untuk mempromosikan maupun terus menyempurnakannya.

    Di tengah gencarnya gempuran aplikasi berkirim pesan buatan luar negeri dengan berbagai fitur dan promosi menarik, perjalanan liteBIG Messenger untuk memikat pengguna di dalam negeri panjang dan, mungkin, berat. Namun, mengingat aplikasi ini sudah mampu menonjolkan diri dengan fitur yang tidak dimiliki kompetitor, serta menawarkan keamanan bagi data-data penggunanya, liteBIG Messenger sudah punya potensi untuk menembus pasar.

Viewing 1 post (of 1 total)

You must be logged in to reply to this topic.