Gagal Tangani Konten Ekstremisme, Pajak Baru Menanti Perusahaan Media Sosial

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook telah menerima sorotan tajam karena kurangnya upaya dalam memerangi ekstremisme dan berita bohong. Untuk pemerintah Inggris telah menyiapkan pajak baru yang siap secara resmi untuk diterbitkan.

Inggris mungkin akan mengenakan pajak baru pada perusahaan – perusahaan teknologi kecuali mereka telah melakukan lebih banyak usaha untuk melawan ekstremisme online. Seperti menghapus konten – konten yang dapat meradikalisasi orang atau membantu mereka untuk mempersiapkan serangan. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keamanan dari Partai Konservatif, Ben Wallace.

Ben Wallace menyatakan perusahan – perusahaan media sosial dapat bersenang – senang menjual data orang, tetapi tidak memberikannya ke pemerintah. Padahal pemerintah telah yang menghabiskan banyak dana untuk menjalankan program de-radikalisasi, pengawasan dan tindakan anti-terorisme lainnya.

“Jika mereka tetap tidak mau bekerja sama, maka kita harus melihat hal-hal lain seperti pajak sebagai cara untuk memberi insentif atau memberi kompensasi atas lambannya tindakan mereka menangani konten – konten ekstremisme dan berita bohong,” kata Ben Wallace seperi dikutip dari sebuah wawancara pada surat kabar Sunday Times.

Selain itu ia juga menuduh perusahaan – perusahaan teknologi raksasa itu mendahulukan keuntungan ketimbang keamanan publik.

Direktur Kebijakan Facebook, Simon Milner menolak kritikan tersebut dalam sebuah pernyataan kepada Reuters.

“Ben Wallace salah apabila ia mengatakan kami mendahulukan keuntungan ketimbang keamanan publik, khususnya dalam memerangi terorisme,” ujarnya dalam sebuah email.

“Kami telah melakukan investasi jutaan poundsterling, baik itu pada sumber daya manusia dan teknologi guna mengenali dan menghapus konten terorisme,” lanjutnya.

Sementara itu, YouTube yang merupakan milik Google mengatakan bahwa mereka telah melakukan lebih banyak setiap harinya untuk mengatasi masalah kekerasan yang ditimbulkan oleh ekstremisme.

“Selama tahun 2017 kami telah membuat kemajuan yang signifikan melalui investasi pada teknologi pembelajaran mesin dan kerja sama dengan perusahaan – perusahaan lain,” jelas juru bicara YouTube.

Inggris sendiri telah mengalami sejumlah serangan yang dilakukan oleh ekstrimis tahun lalu. Dari serangan tersebut sejumlah 36 orang menjadi korban, belum termasuk para teroris. Selain itu ada juga pengeboman yang terjadi pada saat berlangsungnya konser musk di Manchester, yang mengakibatkan 22 orang meninggal dan 199 lainnya cedera.

Namun, Facebook mengatakan bahwa pihaknya telah menghapus 83 persen konten teroris yang diunggah dalam waktu satu jam setelah konten – konten ditemukan.

Facebook saat ini tengah diteliti oleh para regulator di Jerman dan Prancis mengenai bagaimana mereka menangani privasi dan memonetisasi data pengguna. Facebook juga telah menyampaikan bahwa mereka akan melipatgandakan jumlah orang yang bekerja di tim keamanan hingga 20.000 orang pada akhir 2018.

Sumber