Hati-Hati! Malware Berbentuk Foto Ini Bisa Retas Akun WhatsApp dan Telegram

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Jakarta – Saat ini WhatsApp dan Telegram merupakan aplikasi pesan instan yang paling banyak digunakan di dunia. Namun, sekelompok penyelidik dari perusahaan keamanan Check Point telah menemukan kelemahan baru pada aplikasi WhatsApp dan Telegram.

Kelompok penyelidik dari Check Point tersebut telah menemukan kelemahan pada versi browser WhatsApp dan Telegram. Apabila anda sering menggunakan kedua aplikasi ini menggunakan browser, hentikan penggunaannya dan tunggu sampai kedua layanan tersebut memperbaharui versi browser mereka.

Hal tersebut diungkapkan oleh perusahaan keamanan Check Point’s Rui Duro pada acara International Conference on Cyber Security, yang diadakan oleh Polytechnic Institute of Guarda.

Pada kesempatan tersebut, pihak Check Point menjelaskan mengenai kelemahan pada layanan pesan instan WhatsApp dan Telegram. Dimana melalui kedua layanan tersebut peretas mampu mengambil alih akun korban dan mengakses semua percakapan pribadi serta grupnya. Selain itu juga peretas dapat mengambil foto-foto yang ada, daftar kontak, file video dan semua file yang dibagikan dari perangkat apapun.

Oded Vanunu, Direktur Penelitian dari Check Point menyatakan bahwa penemuan adanya kelemahan tersebut diakibatkan oleh file gambar yang terlihat tidak berbahaya dan apabila di buka oleh korban akan memberikan akses pada peretas.

”Dengan mengunggah sebuah foto yang terlihat tidak berbahaya, penjahat siber dapat melacak akun pengguna, mengakses riwayat pesan, melihat dan mengunduh semua foto yang ada serta mengirimkan pesan menggunakan akun korban.,” jelasnya.

Sebelumnya ada kelemahan yang sudah diperbaiki oleh pengembang dari kedua layanan tersebut. Namun, justru itu membuka jalan bagi penjahat siber untuk mengirimkan kode jahat berupa foto yang terlihat tidak berbahaya. Hanya dengan satu klik saja, maka akses penuh akan terbuka ke tempat dimana data-data WhatsApp dan Telegram disimpan.

Bahkan, penjahat siber dapat mengirimkan kode jahat tersebut ke semua kontak yang ada di daftar kontak si korban, sehingga dapat menimbulkan sebuah serangan secara besar-besaran.

Pihak Check Point juga menyampaikan bahwa mereka telah menginformasikan mengenai penemuan mereka tersebut ke pihak tim keamanan WhatsApp dan Telegram pada tanggal 8 Maret. Kedua perusahaan langsung dengan tanggap memperbaiki masalah tersebut.(hh)