Indonesia Sampai Saat Ini Masih Gunakan Satelit C-Band

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Jakarta – Satelit yang menggunakan pita frekuensi C-Band dinilai oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan sangat sesuai untuk digunakan di tanah air.

Pita C memiliki frekuensi yang termasuk kecil apabila dibandingkan dengan pita frekuensi yang paling baru misalnya seperti Ku-Band dan Ka-Band. Untuk download C-Band mempunyai kapasitas kisaran di 3.7 Ghz sampai dengan 4.2 Ghz. Sementara untuk uplinknya di kisaran 6.425 Ghz.

C-Band memiliki kemampuan yang lebih baik pada saat cuaca tidak bersahabat misalnya hujan dan badai. Walaupun kuota yang digunakan sudah penuh, Indonesia sampai saat ini masih menggunakan satelit yang memiliki frekuensi pita C tersebut.

“Kami percaya bahwa salah satu frekuensi pada satelit, yaitu frekuensi C-Band, adalah yang paling cocok dan intensif digunakan oleh Indonesia,” ujar Farida Dwi Cahyarini, Sekjen Kominfo, seperti dikutip dari detikINET, Selasa (13/9/2016).

Dia juga berpendapat bahwa pengembangan komunikasi satelit dilakukan oleh sejumlah negara yang lokasi dekat khatulistiwa yang memiliki kelembaban tinggi dan curah hujan tinggi.

“Negara-negara itu menggunakan frekuensi C-Band yang dapat menjadi infrastruktur telekomunikasi, khususnya untuk daerah yang kurang terlayani,” ujar Farida dalam penjelasannya.

Dia juga menjelaskan betapa vitalnya komunikasi satelit untuk wilayah di tanah air yang lokasinya terletak di kawasan ring of fire. Dimana banyaknya gugusan gunung berapi yang aktif dikombinasikan dengan laut yang mengelilinginya, dimana munculnya potensi tsunami cukup besar sehingga potensi timbulnya bencana alam di Indonesia sangat besar.

“Kita mengingat kembali saat terjadi bencana tsunami di Aceh dan Nias yang menghancurkan infrastruktur telekomunikasi. Semua komunikasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan jaringan satelit,” katanya.

Dia juga mengatakan Indonesia telah memiliki pengalaman dalam komunikasi satelit, ini berawal pada tahun 1976. Kala itu Indonesia sudah mengirimkan ke orbit satelit pertamanya Palapa A-1. Jadi, sampai saat ini keberadaan satelit merupakan kebutuhan yang sangat vital di Indonesia, khususnya dalam turut mendirikan infrstruktur broadband untuk wilayah-wilayah terpencil.

Farida menerangkan juga mengenai proyek Palapa Ring, dimana ini adalah bagian dari usaha Pemerintah Indonesia untuk memberikan layanan jaringan komunikasi pada wilayah terpencil.

“Palapa Ring adalah jaringan nasional yang akan menjadi tulang punggung Indonesia. Ini teknologi informasi dan komunikasi yang menghubungkan tujuh pulau utama, 33 provinsi, dan 460 kabupaten dengan jumlah 13.000 km serat optik. Palapa Ring dan jaringan satelit secara bersamaan akan mencakupi layanan telekomunikasi broadband di seluruh Indonesia,” jelasnya dengan tegas.

Henri Yvon, Chief of Space Service Departement (SSD), Radio communication Bureau, International Telecommunication Union (ITU) menyampaikan bahwa satelit memiliki peranan yang makin penting karena menghadirkan jangkauan hampir di semua wilayah, yang mampu memberi dukungan pada kehidupan sehari-hari.

“Baik untuk penyaluran program televisi dan penyiaran, jaringan seluler infrastruktur backhaul, global positioning dan navigasi, meteorologi dan pemantauan sumber daya bumi, akses internet dan telekomunikasi di daerah terpencil atau dalam situasi darurat, dan komunikasi keselamatan,” ujarnya seraya mengakhiri pembicaraan.