Kecerdasan Buatan Google Kalahkan Manusia Dalam Kejuaran Go

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

AlphaGo merupakan sistem kecerdasan buatan milik Google dan baru-baru ini telah berhasil mengalahkan pemain Go (Gomoku atau Gobang) nomor satu di dunia Ke Jie. Perusahaan yang mengembangkan sistem kecerdasan buatan tersebut adalah DeepMind yang telah diakusisi oleh Google pada tahun 2014.

Seperti dilansir dari BBC teknologi, AlphaGo berhasil memenangkan permainan pada babak kedua dari tiga babak permainan tersebut. Pendiri DeepMind Demos Hassabis mengatakan bahwa Ke Jie telah bermain sempurna dan berhasil menekan AlphaGo hingga batas kemampuannya.

Sementara dalam wawancara dengan para wartawan, Ke Jie merasa sedikit sedih dan ada sedikit rasa penyesalan karena ia merasa telah bermain dengan baik.

“Saya merasa sedikit sedih dan juga menyesal, karena saya pikir saya telah bermain dengan baik,” ujar Ke Jie kepada para wartawan seperti dilansir dari BBC.

Go atau Gomoku atau dikenal juga dengan Gobang, merupakan permainan yang menggunakan batu Go yang berwarna hitam dan putih. Permainan dilakukan diatas sebuah papan Go dengan ukuran 15×15 atau 19×19 perpotongan.

Tujuan dari permainan adalah bertanding untuk menguasai sebanyak mungkin area pada papan Go. Pemenangnya adalah pemain pertama yang mendapatkan 5 baris batu yang tidak terputus secara horizontal, vertikal, atau diagonal.

Permainan Go dianggap permainan paling rumit di dunia dan memberikan lebih banyak tantangan untuk komputer dari pada catur.

Keahlian yang dimiliki oleh AlphaGo merupakan hasil pembelajaran dari pertandingan-pertandingan yang lama. Disamping ribuan permainan yang telah dilakukan untuk melawan dirinya sendiri.

Perusahaan pembuat AlphaGo mengatakan bahwa nantinya kecerdasan buatam tersebut akan diterapkan di sector ilmu pengetahuan dan obat-obatan.

Seorang ahli komputer dari Sheffield University, Profesor Noel Sharkey mengatakan bahwa perjalanan masih jauh untuk membuat kecerdasan buatan untuk umum.

Sementara itu Profesor Nello Cristianini dari Bristol University menambahkan bahwa mesin tersebut telah memperlihatkan kemampuannya untuk mempelajari sesuatu dan itu membuktikan bahwa sebuah mesin sangat mampu dengan kecerdasan buatannya. Namun, belum masuk pada tahap kecerdasan umum.

Jadi jenis kecerdasan yang diperlihatkan oleh mesin yang mahir dalam sebuah permainan masih terlalu sempit. Bisa saja di bidang lain meraka mungkin akan menghasilkan algoritma yang bermanfaat. Sejauh ini mereka sudah mendekati dengan kemampuan memecahkan masalah seperti yang dimiliki oleh manusia.

Kedua ahli tersebut sepakat bahwa algoritma yang digunakan dapat diterapkan di bidang lain, misalnya saja kesehatan. DeepMind sendiri telah bekerja sama dengan pelayanan kesehatan national di Inggris untuk mengembangkan aplikasi yang dapat membantu melakukan diagnosa.(hh)