Komputer Yang Dapat Baca Pikiran Manusia

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Berlin – Para peneliti di Eropa berhasil mengembangkan desain untuk sebuah perangkat antarmuka otak komputer (Brain Computer Interface), yang dapat membantu mereka untuk membaca pikiran para pasien yang mengunci diri mereka.

Pasien-pasien yang dimaksud ialah pasien yang mengalami beragam jenis sindrome yang membuat kemampuan berkomunikasi mereka berkurang, seperti Locked-in syndrome (LIS). Penyakit yang mempengaruhi syaraf, sehingga tidak mampu menggerakan bagian tubuhnya. Namun, dengan adanya perangkat ini, mereka dapat berkomunikasi kembali.

Pada beberapa tahun terakhir ini kita melihat banyak ketertarikan pada Brain Computer Interface (BCI) ini, khususnya di bidang kesehatan. Sejumlah perusahaan teknologi besar banyak yang melakukan kerjasama dengan universitas-universitas ternama dalam rangka melakukan riset guna mengembangkan perangkat antarmuka otak komputer (BCI) yang dapat bekerja dengan baik.

Seperti kita telah ketahui, BCI mampu membaca pikiran manusia dan dapat membuat yang tadinya sulit menjadi mudah. Di dalam bidang kesehatan BCI membantu meningkatkan kehidupan orang-orang yang tidak dapat mengontrol bagian badan mereka untuk waktu yang cukup lama.

Jadi untuk para pasien yang mengalami segala jenis sindrom dari Locked-in syndrome dan mengalami kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi, dapat menggunakan BCI untuk melakukan komunikasi dengan dunia luar.

BCI yang dibuat oleh para peneliti di Eropa tersebut dapat membaca pikiran pasien, kemudian memberikan pilihan sederhana seperti pertanyaan ya atau tidak.

Seperti dilansir dari MIT Tech Review, perangkat antarmuka akan mendeteksi perubahan gelombang listrik yang berasa dari otak pasien serta dari darah yang mengalir dengan menggunakan teknik spektroskopi inframerah.

Tim peneliti menanyakan sebuah pertanyaan kepada para pasien yang cukup di jawab dengan ya atau tidak. Tiga dari empat jawaban adalah ya, ketika pertanyaan yang diajukan memperlihatkan tulisan “Saya menyukai kehidupan”.

MIT Tech Review juga menulis bagaimana tim peneliti memberikan pertanyaan kepada para pasien selama sepuluh hari melakukan uji coba. Banyak pasien yang mampu memberikan tanggapan ketika pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seperti “Apakah anda lahir di Berlin” atau “Apakah Paris ibukota dari Jerman”. Dengan melakukan modulasi pada pikiran mereka dan memantau pola aliran darah. Jawaban-jawaban yang diberikan hampir 70 persen akurat, ini merupakan sebuah tanda yang baik.

Teknologi seperti BCI ini akan memberikan manfaat yang sangat besar di bidang kesehatan. Khususnya bagi para penderita locked-in syndromes (LIS).(hh)