Mantan Pegawai Facebook dan Google Bentuk Koalisi untuk Melawan Kecanduan Teknologi

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Sudah waktunya untuk membicarakan masalah mengenai kecanduan teknologi. Untuk itulah sejumlah mantan eksekutif teknologi dan perintis media social telah melakukan pertemuan beberapa bulan terakhir untuk menyampaikan bahaya dan efek yang ditimbulkan pada masyarakat dari internet. Sekarang sebuah grup yang terdiri dari mantan pegawai Apple, Facebook dan Google ikut bergabung dengan koalisi anti teknologi yang bernama Center for Humane Technology (Pusat Teknologi Kemanusiaan).

Seperti dilansir dari PCMag, organisasi tersebut telah mengorganisir para pemimpin dan meningkatkan kesadaran akan bahanya teknologi sejak tahun 2014. Namun, minggu ini mereka mengumumkan beberapa profil inisiatif baru. Seperti dilaporkan oleh New York Times, organisasi tersebut akan memulai upayanya dengan kampanye iklan, sebanyak 55.000 sekolah umum Amerika merupakan target dari kampanye iklan tersebut.

Kampanye iklan tersebut diberi nama “The Truth About Tech” (kebenaran tentang teknologi). Kampanye iklan ini di desain untuk memberikan informasi kepada orang tua, guru – guru dan pelajar mengenai efek teknologi yang berpotensi membahayakan. Khususnya mengenai jumlah waktu yang dihabiskan dalam menggunakan ponsel pintar atau terobsesi dengan interaksi virtual. Karena ini akan menimbulkan kecemasan, depresi, kurang fokus, kurang tidur, dan mempengaruhi perkembangan kesehatan sosial otak dari anak – anak dan remaja.

Tristan Harris merupakan pendiri dan juga Direktur Eksekutif dari organisasi tersebut, ia adalah mantan pegawai Google, bekerja sebagai “ethical designer”. Selain itu ada juga investor Facebook Roger McNamee, kemudian ada mantan eksekutif komunikasi Apple dan Google, Lynn Fox. Mantan eksekutif di Facebook Dave Morix dan Sandy Parakilas, John Zimmer, president dari Lyft dan pendiri Asana Justin Rosenstein yang membuat tombol “suka” (like) di Facebook.

“Masyarakat kita dibajak oleh teknologi,” tulis organisasi itu dalam situsnya.
“Apa yang dimulai sebagai sebuah perlombaan untuk memonetisasi perhatian kita sekarang mengikis pilar masyarakat kita: kesehatan mental, demokrasi, hubungan sosial, dan anak-anak kita.”

Fokus dari organisasi adalah pada apa yang mereka sebut dengan “Desain Manusiawi”, yang dapat menjadi bingkai perancangan perangkat dan aplikasi dalam hal kerentanan. Situs ini juga mengidentifikasi pengaruh 24/7 dari teknologi terhadap kontrol sosial, personalisasi, dan kemampuan prediksi kecerdasan buatan yang terus berkembang sebagai kekuatan pengendali tektonik yang memungkinkan platform sosial media seperti Facebook, Twitter, dan YouTube mengotomatisasi miliaran iklan, tren sosial, dan video yang diputar otomatis untuk dikendarai guna menghasilkan keuntungan.

Dengan adanya Desain Manusiawi, diharapkan para pembuat perangkat seperti Apple dan Samsung serta perusahaan aplikasi sosial seperti Facebook dan Snapchat untuk merancang ulang perangkat dan antarmuka mereka agar dapat melindungi pikiran kita dari gangguan konstan, meminimalkan waktu di depan layar, melindungi waktu kita dalam bersosialisasi dan mengganti pasar aplikasi yang lebih bersaing untuk penggunaan dengan pasar alat yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan dan masyarakat.

Organisasi tersebut juga telah menyiapkan rencana untuk melakukan upaya dengan melobi pihak para pembuat undang – undang. Sebuah rancangan undang – undang telah diperkenalkan oleh Senat Demokrat untuk mengkomunikasikan penelitian mengenai dampak teknologi pada kesehatan anak-anak dan sebuah undang-undang di California yang melarang penggunaan bots digital (program komputer yang berbicara seperti manusia) tanpa identifikasi.

Dalam menjalankan kampanye iklan “The Truth About Tech”. Organisasi tersebut bekerja sama dengan organisasi pengawas media nonprofit, Media Common Sense pada kampanye yang bernilai 7 juta dolar itu. Disamping itu mereka juga mendapatkan sumbangan sebesar 50 juta dolar berupa media and jam tayang dari Comcast, DirecTV, dan mitra lainnya. Menariknya, CEO Common Sense, Jim Steyer mengatakan kepada Times bahwa kampanye tersebut dimodelkan seperti pada kampanye anti-merokok, hanya saja bukan fokus pada konsumen dewasa melainkan pada konsumen anak – anak karena merekelah yang paling rentan.(hh)

Sumber