Militer Rusia Akui Adanya Upaya Lakukan Perang Siber

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Untuk pertama kalinya pihak militer Rusia telah mengakui adanya upaya dalam skala yang cukup besar untuk melakukan perang siber. Upaya tersebut secara signifikan berkembang setelah pasca perang dingin.

Seperti dilansir dari BBC.com, Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu mengatakan adanya pasukan IT yang terlibat dalam intelijen untuk melakukan propaganda yang efektif. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci mengenai pasukan IT yang dibentuk ataupun sasarannya.

Selama berlangsungnya perang dingin, pihak Timur dan Barat mencurahkan segala bentuk upaya untuk sebuah propaganda. Proganda dibuat untuk mempengaruhi opini publik secara global serta untuk menjual ideologi – ideologi mereka.

“Kami memliki pasukan IT yang lebih efektif dan kuat dibanding pasukan terdahulu yang digunakan untuk melakukan propaganda” ujar Shoigu.

Menurut Keir Gile, seorang pakar dibidang Militer Rusia, telah memperingati adanya “Perang Siber” yang telah disebar, sementara pihak barat terfokus pada “Prajurit maya” dan peretas.

“Tujuannya adalah untuk mengontrol informasi dengan segala cara,” tulisnya dalam sebuah laporan berjudul “The Next Phase of Russian Information Warfare” (Tahap Lanjutan dari Perang Informasi Rusia).

Rusia telah melakukan segala bentuk uji coba terhadap NATO, termasuk menyerang para tentaranya melalui akun sosial media mereka, jelas Giles pada BBC.

Sebelumnya ada laporan mengenai serangan pasukan IT Rusia yang menargetkan pasukan NATO di negara-negara Baltik dan pasukan Ukraina pro Rusia yang memerangi pemberontak.

Usaha Rusia di dunia siber tengah dalam pengawasan pihak Barat, menyusul adanya tuduhan serius oleh Amerika Serikat mengenai keterlibatan peretas Rusia pada pemilihan president, sehingga membuat terpilihnya Donald Trump.

Menanggapi pernyataan Shoigu, mantan Panglima militer Rusia Jenderal Yuri Baluyevksy mengatakan bawah kemenangan dalam sebuah perang siber menjadi lebih penting ketimbang perang konvesional, karena tidak ada pertumpahan, tetapi dampaknya sangat luas, sehingga mampu melumpuhan struktur kekuatan musuh.

Sementara itu pihak Uni Eropa telah memiliki tim khusus untuk memerangi segala bentuk informasi yang disebarkan olah Rusia melalui media sosial. Tim khusus tersebut bernama East StratCom Task Force.(hh)