Program Kecerdasan Buatan Menangkan Kompetisi Poker

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Jakarta – Pada bulan Januari lalu di Cina telah diadakan sebuah kompetisi poker yang pesertanya adalah sebuah program kecerdasan buatan.

Program kecerdasan buatan tersebut bernama Lengpudashi, program itu mengikuti kompetisi yang berlangsung selama lima hari di Cina. Pada beberapa pertandingan eksibisi, program tersebut berhasil mengalahkan enam pemain poker.

Nilai total kemenangan yang diraih oleh program kecerdasan buatan tersebut mencapai 290,000 dolar Amerika atau sekitar 38 milyar rupiah.

Tahun ini merupakan tahun kedua dimana program kecerdasan buatan berhasil mengalahkan pemain poker manusia. Sebelumnya program kecerdasan buatan yang diberi nama Libratus, berhasil mengalahkan empat pemain poker profesional.

Sistem kecerdasan buatan tersebut merupakan ciptaan Tuomas Sandholm, seorang Profesor di bidang Ilmu Komputer dari Carniege Mellon University di Amerika Serikat dan Noam Brown seorang mahasiswa PhD. Hadiah uang dari kompetisi akan diserahkan kepada Strategic Machine, perusahaan yang didirikan oleh kedua orang tersebut.

Tim manusia dalam permainan poker melawan Lengpudashi di pimpin oleh Yue De, seorang pemain poker amatir yang berhasil memenangkan kejuaran dunia poker pada salah satu kategori di Texas Hold’em tahun lalu.

Tim Dragon yang di pimpin oleh Yue De, terdiri dari sejumlah insinyur, ahli komputer dan investor yang menggunakan strategi berdasarkan teori game dan pengetahuan mereka mengenai sistem kecerdasan buatan untuk mengantisipasi langkah Lengpudashi dalam pertandingan.

Berbeda dengan permainan catur, dimana permainan terlihat dalam sebuah papan. Sementara permainan poker jauh berbeda, bahkan menurut para ahli komputer poker adalah sebuah permainan tanpa informasi yang sempurna. Itu artinya permainan poker lebih tergantung pada strategi dalam mengatur taruhan dan juga kepada kemampuan pemain membuat gertakan-gertakan serta mampu memahami ketika pemain melakukan gertakan.

“Banyak orang menyangka bahwa sebuah aksi gertakan merupakan sebuah sifat yang manusiawi,” ujar Noam seperti dikutik dari Bloomberg.

“Ternyata itu tidak benar,” lanjutnya.

“Komputer pun mampu belajar dari pengalamannya, apabila posisi dia lemah dengan melakukan gertakan dia tahu akan menghasilkan banyak uang,” imbuhnya.

Sama halnya dengan sistem kecerdasan buatan terdahulunya Libratus, Lengpudashi berjalan menggunakan super komputer yang berada di Pittsburgh Supercomputing Center.

Para peneliti biasanya menggunakan pertandingan seperti diatas untuk mengasah kemampuan dari program kecerdasan buatan yang mereka kembangkan, terutama untuk melihat kemampuan nalar serta kemampuan dalam mengambil keputusan yang penting.(hh)