Untuk Selamatkan Dunia Maya, Ada Tiga Hal Yang Perlu Dilakukan

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Jakarta – Beberapa hari yang lalu, dunia web yang saat ini telah menjadi bagian terpenting dari jaringan komputer di seluruh dunia, merayakan hari ulang tahunnya ke-28. Tim Berners-Lee seorang ahli fisika berkebangsaan Inggris adalah penemu dari World Wide Web (WWW), yang baru-baru ini menerbitkan artikel pada harian The Guardian, mengenai perhatiannya terhadap hasil karyanya tersebut.

Pada awal tulisannya, Tim menyampaikan mengenai bayangannya terhadap dunia maya sebagai “platform terbuka yang mengijinkan siapa saja yang ingin berbagi informasi, mencari kesempatan dan melakukan kolaborasi tanpa ada batasan geografis dan budaya”. Ia melihat semua hal tersebut telah berhasil dicapai melalui dunia maya, tetapi ia melihat juga adanya kekhawatiran yang semakin bertambah beberapa tahun terakhir ini. Ada beberapa kecenderungan yang nantinya akan menjadi kendala untuk tujuan yang telah dia uraikan diatas.

Berikut beberapa hal yang menjadi perhatiannya, dan saran bagaimana untuk mengatasinya:

1. Kurangnya kontrol terhadap data pribadi

Seringkali kita mengklik tombol setuju untuk “Term of Service” tanpa membacanya terlebih dahulu. Jadi banyak yang dari kita tidak perduli dengan jumlah script yang dijalankan untuk mengumpulkan data dari aplikasi browser yang kita gunakan. Mungkin karena layanan yang disediakan gratis, kita rela mengorbankan data pribadi kita.

Model seperti inilah yang banyak terjadi saat ini, dimana kita melakukan pertukaran informasi mengenai diri kita untuk sebuah layanan gratis. Inilah yang banyak membuat netizen kehilangan kontrol atas data-data yang ingin mereka bagikan dan yang tidak ingin mereka bagikan.

Masalah-masalah tersebut diungkapkan oleh Tim pada tulisannya.

“Didalam sebuah rezim yang suka melakukan penindasan akan mudah untuk melihat kerusakan yang dilakukan: wartawan dapat dengan mudah ditangkap atau dibunuh, serta pemantauan terhadap lawan-lawan politik dapat berjalan,” ujar Tim.

“Bahkan di negara-negara yang pemerintahnya memiliki niat baik, pengamatan terhadap seseorang dengan terlalu jauh akan menjadi ancaman bagi kebebasan berekspresi,” tambahnya.

Untuk mencegah hal tersebut, maka Tim bekerja sama dengan MIT dalam sebuah proyek bernama Solid, dimana data-data pribadinya akan termodulilasi, sehingga dapat menceggah perusahaan untuk mendapatkan akses tanpa seijin pengguna.

Selain itu, Tim juga mendukung upaya yang dilakukan masyarakat dalam menuntut pemerintah untuk memperjuangkan kontrol yang lebih baik terhadap data pribadi.

2. Berita bohong dan informasi tidak benar di dunia maya

Berita bohong dengan mudah menyebar cepat di dunia maya, baik itu melalui yang membagikan atau ada juga yang menambahkan opininya, tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Ditambah dengan adanya algoritma dari Google dan Facebook yang mengutamakan apa yang ingin dilihat oleh netizen.

Ini adalah topik yang cukup rumit, karena disatu sisi ada rasa yang sangat jelas untuk mengatahui mengenai sebuah kebenaran. Namun, rasa tersebut digagalkan oleh ketidakmampuan algoritma dalam membantu netizen untuk memerangi informasi yang tidak benar.

Menurut Tim, kita perlu terus menekan Facebook dan Google untuk melanjutkan usahanya dalam memerangi berita bohong. Selain itu juga meminta agar adanya keterbukaan bagaimana algoritma digunakan, sehingga dapat mempengaruhi hidup kita.

3. Propaganda politik melalui spam serta tanpa adanya keterbukaan

Bukan rahasia umum lagi apabila ada Pemilu, para politikus melakukan kampanya online secara besar-besaran. Bahkan mereka memperkerjakan orang untuk menyebarkan propaganda politik yang dibuat agar berpihak kepada mereka.

“Dengan adanya sistem iklan yang sudah ditargetkan memungkinkan kampanye untuk menyebarkan pidato yang berbeda pada kelompok-kelompok yang berbeda pula, bahkan pada kelompk yang bertentangan. Apa itu yang namanya demokrasi,” tanya Tim.

Menanggapi masalah ini, Tim melihat diperlukan adanya peraturan tambahan untuk sebuah propaganda politik di Internet, sama halnya dengan yang telah dilakukan pada televisi dan radio.

Tim juga mengakui bahwa permasalahan yang dihadapi ini bukanlah sebuah masalah yang sederhana dan hal ini perlu adanya arahan yang perlu dibantu oleh perusahaan dan juga para netizen. Ia juga telah menghadirkan sebuah strategi lima tahun di Web Foundation, organisasi dimana saat ini ia bekerja, yang berguna untuk menyelidiki masalah dan memberikan solusi bagi mereka yang memerlukan.(hh)