Rudiantara Ajak Menteri ICT ASEAN Bersatu Hadapi OTT

Home Forums Aplikasi & Konten, Industri Manufaktur, Community Development dan Program Strategis Rudiantara Ajak Menteri ICT ASEAN Bersatu Hadapi OTT

Viewing 3 posts - 1 through 3 (of 3 total)
  • Author
    Posts
  • #14013
    mr.zulheldi
    Blocked

    Menkominfo Rudiantara mengajak seluruh menteri ICT di ASEAN untuk bersatu mengambil sikap terhadap para pemain over-the-top (OTT) global agar negara-negara di Asia Tenggara tak cuma dijadikan sebagai pasar saja.

    Seruan itu disampaikan oleh Chief RA, panggilan akrab Rudiantara, dalam pembukaan ASEAN ICT Ministers Meeting di Da Nang, Vietnam, Kamis (26/11/2015).

    “Apabila ASEAN satu suara, maka akan meningkatkan bargaining power sehingga bisa duduk pada posisi yang lebih berimbang. Bukan bermaksud untuk melarang, namun agar terjadi win-win antara operator seluler dengan OTT,”

    “Soalnya ada OTT yang pelanggannya di negara ASEAN itu nomor tiga dan nomor empat di dunia,”

    #14020
    Eddy Thoyib
    Blocked

    by the way, kita memerlukan action yg benar benar dapat dirasakan oleh para pengembang OTT. misalnya Litebig, kenapa kita tidak ramai ramai mempergunakan messaging ini, dilingkungan kita dulu misalnya, bila bagus kita share ke orang lain, bila kurang bagus dan masih membutuhkan perbaikan, beri masukan ke pengembang. apabila kita benar benar yakin bahwa ini bagus dan dapat diandalkan, coba manfaatkan di organisasi kita yg lebih besar . . . .

    #14487
    Eddy Thoyib
    Blocked

    Ajakan Chief Rudi Antara kepada menteri menteri Asean untuk bersatu menghadapi serbuan OTT Internasional, menurut hemat saya ” sesuatu yang indah ” yang tidak terlalu mudah untuk direalisir, apalagi untuk disepakati pada level – level operasional perusahaan.
    Bisa saja secara politis para Menteri sepakat untuk menyamakan persepsi dan bahu membahu menghadapi OTT global ini; tetapi bagaimana di tataran bisnisnya.
    Ketika kita concern untuk melindungi dan berupaya mengembangkan potensi potensi lokal ; selama ini kita sudah banyak melihat bahwa tidak terlalu banyak yg dapat dilakukan oleh pemerintah untuk memberdayakan mereka ; apalagi dengan asumsi memberdayakan dukungan industri telekomunikasi yanga ada. Kepentingan dan mempertahankan eksistensi bisnis yg ada di masing masing operator telekomunikasi misalnya, lebih mereka utamakan, ketimbang membantu mendukung pengembangan aplikasi OTT lokal yg notabene akan menggerogoti revenue perusahaannya.

    Siapa yang tidak mengenal line, whatssapp, wechat, dll saat ini di Indonesia yang dengan mulus melenggang di semua layanan jasa telekomunikasi di Indonesia. Siapa juga yang tidak tau bahwa di Indonesia ada banyak aplikasi aplikasi serupa yang dikembangkan oleh putra putri indonesia, ada yang namanya catfiz, litebig, ada yang namanya lanjar.com , dan lain lain yg sebenarnya memiliki kemampuan yang tidak kalah baiknya dengan brand brand global; tetapi di pasar mereka tidak dapat berkembang secepat global brand yang notebene di topang oleh marketing dan dukungan dana yang sangat besar melalui jaringan angel investor internasional.

    Kita semula mengharapkan para operator telekomunikasi yg ada saat ini bersedia membina dan ikut mendorong pengembanganna sehingga suatu saat akan tumbuh besar dan bersaing dengan brnad brand global. Kenyataan di lapangan berbalik 180 derajat dari harapan kita. Pada sebuah seminar yang diselengarakan oleh Kementerian Koordinator BIdang Perekonomian bulan yang lalu, 29 Desember 2015 ” Urgensi penerapan dan sinkronisasi kebijakan implementasi 4g lte dalam mendukung perekonomian nasional ” saya meyampaikan di forum kepada salah seorang panelist yg mewakili operator telekomunikasi selular di Indonesia . Amazing jawaban yg diberikan ” kita sebenarnya bukan tidak mau mengakomodasi ott lokal , tetapi kita sangat concern dengan mutu OTT tsb , yang salah salah bukan image baik yg kita dapatkan, justeru akan memberikan dampak image yg tidak baik bagi perusahaan, karena meluncurkan layanan yg kurang berkualitas “. Lebih lanjut beliau juga mengatakan ” kita tidak bisa memaksakan orang atau karyawan kita mempergunakan aplikasi aplikasi tertentu, karena pilihan di end user sangat ditentukan oleh preferensi pribadi dan faktor kenyamanan”.

    Dari tanggapan yang diberikan, terus terang saya secara pribadi merasa pesimis bahwa kita ( pemerintah dan industri yang notabene sangat profit oriented ) akan dapat sepenuh hati mendukung OTT lokal agar tumbuh besar dan mengglobal. Langkah dan kebijakan konkrit yang diperlukan oleh para pengembang / talenta dibidang ICT , bukan hanya sekedar wacana.

Viewing 3 posts - 1 through 3 (of 3 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.