Kominfo dan BMKG Rilis Sistem Peringatan Bencana

logo huawei

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan empat operator seluler dan juga Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk meluncurkan Sistem Peringatan Bencana melalui Pesan Singkat (SMS). Peluncuran program tersebut dilakukan di Jakarta, yang dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan juga Kepala BMKG Andi Eka Sakya.

Keempat operator seluler yang turut andil dalam peluncuran sistem peringatan bencana melalui SMS ini adalah Telkomsel, XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan Hutchison 3 Indonesia (Tri). Keempat operator ini digandeng karena menguasai lebih dari 95% pangsa pasar pengguna seluler di Indonesia.

BMKG mengharapkan dalam pelaksanaan program tersebut dapat mengurangi korban jiwa maupun kerugian materil akibat bencana alam.

“Indonesia berada di ‘cincin api’ dan potensi terhadap bencana sangat tinggi yakni ada 57 persen daerah di Indonesia berada di daerah rawan bencana tersebut,” kata Andi.

Sementara itu, Menkominfo Rudiantara mengatakan, bahwa Sistem Penyampaian Informasi Kebencanaan ini sesuai dengan amanat Pasal 20 UU No.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, yang menyatakan bahwa setiap penyelenggara telekomunikasi wajib memberikan prioritas untuk pengiriman, penyaluran, dan penyampaian informasi penting yang menyangkut keamanan negara, keselamatan jiwa manusia dan harta benda, bencana alam, marabahaya, dan atau wabah penyakit.

BMKG disini akan menjadi sumber informasi tentang kebencanaan, seperti peringatan dini bencana baik gempa bumi maupun tsunami dan cuaca ekstrem. Informasi BMKG tersebut nantinya akan disalurkan ke Kementerian Kominfo, untuk kemudian dilanjutkan kepada para operator. Para operator akan mengirimkan informasi tersebut dalam bentuk SMS kepada para pelanggannya di daerah (kabupaten dan kota) terdampak bencana.

Misalnya, terjadi bencana di Kabupaten Garut, warga Kabupaten garut akan mendapatkan SMS informasi tersebut. “Hal ini huna mengurangi kepanikan masyarakat luar daerah terdampak akibat informasi bencana itu,” jelas Andi.

Menurut Andi Sakya, jarak waktu antara informasi yang diberikan BMKG ke Kominfo hingga SMS yang tersebar ke masyarakat tidak lebih dari limat menit. “Waktu penyampaian ini semakin cepat semakin baik. Kita ingin seperti Jepang yang tidak lebih dari dua menit, sehingga ada ‘golden time’ (waktu emas) bagi masyarakat untuk bersiap menghadapi bencana,” ujarnya.

SMS akan diterima masyarakat dari operator selambatnya dua menit setelah operator seluler menerima informasi dari Pusat Penyampaian Informasi Bencana yang dibangun oleh Kominfo. Dalam uji coba yang dilaksanakan pada kesempatan tersebut, tercatat waktu tak lebih dari dua menit info bencana dapat tersampaikan melalui SMS.

Penyampaian informasi kebencanaan melalui SMS ini diuji cobakan di tiga daerah yaitu Kota bandung, Kota Yogyakarta, dan Jakarta. Daerah Gambir dipilih untuk dilakukan uji coba untuk daerah Jakarta dengan melibatkan BMKG, dan PT Telkom sebagai penyedia jaringan komunikasi dan aplikasi sistem.

Di saat yang sama pula, dilakukan video conference antara ketiga daerah tersebut untuk memastikan kelancaran uji coba sistem ini. Video conference tersebut adalah berupa testimoni dari perwakilan Kominfo, BMKG, dan operator seluler yang berada di masing-masing lokasi.

Untuk wilayah yogyakarta, isi pesan tersebut adalah “Pesan ini adalah UJI COBA Diseminasi Informasi Bencana Alam Khusus Kota Yogyakarta melalui SMS. Terima Kasih. Kominfo-BMKG-Operator Telekomunikasi”.

Sedangkan untuk wilayah bandung, “Pesan ini adalah UJI COBA Diseminasi Informasi Bencana Alam Khusus Kota Bandung melalui SMS. Terima Kasih. Kominfo-BMKG-Operator Telekomunikasi”.

Dan terakhir untuk wilayah jakarta, “Pesan ini adalah UJI COBA Diseminasi Informasi Bencana Alam Khusus daerah Gambir Jakarta melalui SMS. Terima Kasih. Kominfo-BMKG-Operator Telekomunikasi”. [MFHP]