Badan Intelejen Dari 5 Negara Bahas Secara Terbuka Tentang Ancaman Siber

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Para ahli dari badan intelijen yang berasal dari 5 negara yang disebut dengan “Five Eyes” akan hadir bersama untuk pertama kalinya di Inggris dalam rangka membahas mengenai ancaman siber.

“Five Eyes” awalnya merupakan aliansi dari badan intelijen yang hampir seluruhnya rahasia di mana Amerika, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru saling berbagi informasi mengenai ancaman siber.

Seperti dilansir dari BBC, Perwakilan dari kelima negara tersebut akan melakukan diskusi secara terbuka di konferensi CyberUK di Glasgow yang akan diadakan pada hari Rabu waktu setempat. Kegiatan ini diadakan di tengah-tengah adanya ketegangan di dalam kelompok ini yang erat kaitannya bagaimana menangani Tiongkok.

Ada laporan bahwa Perdana Menteri Theresa May telah memberikan lampu hijau bagi raksasa telekomunikasi asal Tiongkok Huawei untuk berpartisipasi dalam membangun beberapa bagian “non-inti” pada jaringan data 5G yang baru.

Menurut Daily Telegraph, keputusan itu dibuat oleh Perdana Menteri Theresa May meskipun ada kekhawatiran yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri, Pertahanan dan Luar Negeri.

Sementara Amerika telah berkampanye dengan keras kepada sekutunya untuk tidak menyertakan Huawei, dan telah mendapatkan dukungan dari Australia yang kini telah berpihak pada Washington.

Amerika juga sebelumnya telah mengatakan bahwa mereka memiliki keprihatinan serius atas kewajiban Huawei kepada pemerintah Tiongkok dan bahaya yang ditimbulkan pada integritas jaringan telekomunikasi di Amerika dan juga di negara lain.

Menghadapi pernyataan tersebut, Huawei selalu membantah bahwa mereka dikendalikan oleh pemerintah Tiongkok, atau pekerjaan yang mereka lakukan akan menimbulkan risiko spionase dan sabotase.

Dalam sambutannya pada pembukaan konferensi CyberUK, Direktur GCHQ Jeremy Fleming memperingatkan bahwa revolusi teknologi membawa tantangan baru yang sebelumnya belum pernah terjadi bagi para pembuat kebijakan ketika mereka berusaha untuk melindungi warga negara, sistem peradilan, bisnis dan bahkan norma-norma sosial di negara mereka.

Dia juga mengatakan bahwa pemerintah ingin berbuat lebih banyak untuk mengambil beban keamanan siber dari setiap individu dan untuk bekerja dengan produsen dan perusahaan online, untuk memastikan mereka membangun sistem keamanan ke dalam produk dan layanan mereka pada tahap desain.

“Kami membangun upaya secara nasional yang menghadirkan lebih banyak koneksi dan kerjasama dengan sektor swasta dan bahkan bekerja lebih dekat dengan mitra dan sekutu kami,” katanya.

“Untuk membuat ini sukses, pertahanan yang terkuat dan senjata paling kuat adalah kecerdikan kita serta kemampuan kita untuk membayangkan sesuatu yang belum pernah dibayangkan sebelumnya,” imbuhnya.(hh)