Pemakaian Pulsa Internet di Indonesia Timur Boros

logo huawei

Pemakaian pulsa untuk keperluan internet bagi pengguna seluler di Wilayah Indonesia Timur ternyata lebih boros. Dibandingkan dengan pemakaian pulsa dari para pengguna seluler di Indonesia bagian barat. Seperti yang telah diinformasikan oleh detik.com.

Hal tersebut diketahui berdasarkan keterangan yang diperoleh dari beberapa pejabat Telkomsel ketika hadir di Makassar untuk program Ekspedisi Langit Nusantara (Elang Nusa). Seperti sudah diketahui, anak perusahaan dari group Telkom tersebut mempunyai pasar seluler lebih dari 50 persen dan memiliki sekitar 152 juta pengguna. Pada kesempatan itu hadir Mulya Budiman, General Manager Corporate Telkomsel, Area Pamasuka Account Management Telkomsel, dan General manager Sales Telkomsel Regional Sulawesi, Ceppy Hermana Djakaria.

Dari hasil wawancara yang diperoleh terlihat adanya bukti, bahwa pasar untuk bisnis seluler masih berkembang dengan pesat di kawasan Indonesia Timur. Ini disebabkan adanya dukungan pengadaan fasilitas koneksi data yang baik.

Infrastruktur BTS yang telah dibangun oleh Telkomsel ada sekitar 25.960 titik dengan data-data sebagai berikut, 12.300 BTS 2G, 13.100 BTS 3G atau Node B, serta 560 BTS 4G atau eNode B. Kesemuanya terdapat pada lokasi-lokasi seperti di Kalimantan (Pamasuka), Papua, Maluku, serta Sulawesi.

“Customer based kami di Pamasuka sudah 36 juta, dengan jumlah pengguna data 16,5 juta. Sementara 4G user telah mencapai 751 ribu. Area Pamasuka sendiri pada 2015 lalu menyumbang pendapatan nasional sebesar 25,5% bagi Telkomsel”, jelas Mulya Budiman atau yang akrabnya dipanggil Jamie oleh teman-temanya.

Sementara apabila dibandingkan dengan 36 juta pengguna di Pamasuka dengan pengguna secara nasional yang jumlahnya sebesar 152 juta, maka besarnya bagian yang diperoleh dari pelanggan adalah sebesar 23,6 persen. Untuk revenue sendiri Pamasuka sudah memberikan kontribusinya sebesar 25,5 persen dari jumlah penghasilan setahun terakhir yang di peroleh dari operator tersebut.

Jamie berterus terang, hal tersebut disebabkan oleh adanya Average Revenue Per User (ARPU) dengan kata lain pulsa seluler yang dibeli serta digunakan oleh para konsumen Telkomsel di wilayah timur Indonesia cukup besar ketimbang di Indonesia bagian barat.

Sebagai contoh di Makassar, ARPU yang diperoleh dari 6 juta pelanggan dikota tersebut adalah sejumlah Rp. 50 ribu untuk prabayar serta sekitar Rp. 125 ribu sampai denganRp. 140 ribu untuk pengguna pascabayar.

“ARPU itu jelas lebih besar dibandingkan Sumatera yang cuma Rp 30 ribu dan juga masih lebih besar dibandingkan ARPU nasional. Itu karena di sini (Pamasuka) jarak lokasi itu jauh-jauh. Jadi lebih efektif berkomunikasi lewat telepon,” tambahnya.

Potensi Pasar

Permasalahan yang hampir sama juga dijelaskan oleh Ceppy, dari pengalamannya memimpin Telkomsel di wilayah Sulawesi, dia juga mengungkapkan data-data mengenai pelanggan seluler di wilayahnya itu.

“Potensi di sini masih besar, pangsa pasar kami di Sulawesi 80%. Dari total 23 juta pengguna seluler di sini, 15,5 juta di antaranya merupakan pelanggan Telkomsel,” kata Jimie.

“Dari 15,5 juta pelanggan itu, yang sudah jadi pelanggan broadband ada delapan juta. Berarti, masih ada potensi 50% pelanggan lagi dari existing yang bisa digarap untuk shifting (beralih) menjadi pelanggan data,” tambahnya.

Ceppy juga menyatakan sejak tahun 2014, pelanggan data Telkomsel bertambah 12 kali lipat. Ini memperlihatkan tanggapan dari masyarakat di Sulawesi sangat tinggi untuk layanan data. Tentunya ini akan bisa mendukung ARPU Telkomsel di area Sulawesi.

“Target pertumbuhan kita nggak tinggi-tinggi, paling satu persen per tahun, kita coba mempertahankan itu saja, sekarang usernya sudah banyak, tinggal bagaimana cara memanfaatkannya saja,” jelasnya seraya menutup pembicaraan.