Facebook Akan Peringatkan Pengguna Bila Sukai Akun Palsu

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Pada hari Rabu, Facebook mengatakan akan membuat sebuah halaman situs yang memungkinkan pengguna untuk melihat akun propaganda yang digunakan oleh Rusia.

Disamping itu, para pengguna akan dapat melihat apakah mereka menyukai atau mengikuti akun – akun tersebut. Hal ini dilakukan oleh Facebook setelah adanya tuntutan dari pemerintah Amerika agar perusahaan jejaring sosial itu lebih terbuka mengenai akun – akun yang terdaftar pada layanannya.

Pihak legislator di Amerika menyebut hal tersebut merupakan langkah positif. Namun, tuntutan mereka sebenarnya adalah Facebook dapat memberitahukan ke setiap penggunanya mengenai konten – konten ataupun iklan – iklan yang terkait dengan propaganda yang dilakukan oleh Rusia.

Facebook, Alphabet Inc Google (GOOGL.O) dan Twitter Inc menghadapi reaksi keras setelah adanya informasi mengenai Rusia yang menggunakan layanan mereka untuk mempengaruhi pemilu di Amerika pada tahun lalu.

Pihak legislator Amerika juga telah mengkritik perusahaan – perusahaan teknologi tersebut karena tidak mampu mendeteksi adanya dugaan campur tangan Rusia pada pemilu di Amerika, dimana pihak Rusia telah menyangkal tuduhan itu.

Facebook menjelaskan bahwa propaganda itu berasal dari Internet Reserach Agency (IRA). Sebuah organisasi yang menurut pihak legislator dan para peneliti telah memperkerjakan ratusan pegawai untuk mendukung konten pro-Kremlin dengan menggunakan akun sosial media palsu.

Sebanyak 126 juta orang bisa jadi telah membuat konten – konten di Facebook dan sekitar 20 juta pada instagram, menurut Facebook. Facebook sendiri telah menonaktifkan akun – akun tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Facebook mengatakan akan membuat orang dapat melihat halaman atau akun mana yang mereka sukai dan ikuti antara Januari 2015 dan Agustus 2017 yang terkait dengan Internet Research Agency.

Fitur ini akan tersedia akhir tahun ini, sebagai bagian dari usaha Facebook untuk melindungi platformnya, serta dari orang yang menggunakannya untuk merusak demokrasi.

Halaman situs itu hanya akan menampilkan daftar akun saja, sementara untuk tulisan – tulisan dan iklan – iklannya tidak. Pihak legislator di Amerika juga telah membuat tulisan terpisah.

Namun, belum jelas apakah Facebook pada akhirnya akan lebih banyak melakukan upaya, seperti mengirimkan pemberitahuan pada setiap penggunanya atau tidak.

Pihak legislator mengatakan bahwa Facebook mungkin mempunyai kewajiban untuk memberitahukan pengguna ketika mengakses sebuah konten yang berasal dari pemerintahan lain.

Sementara itu Senator Richard Blumenthal dari partai Demokrat yang meminta adanya pemberitahuan, mengatakan sepertinya Facebook menanggapi secara serius atas permintaannya.

“Harapan saya ini akan menjadi sebuah tanggung jawab awal dalam melindungi terjadinya serangan pada platform sosial media di masa mendatang,” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan juga oleh perwakilan partai Demokrat Adam Schiff, yang menyebutnya sebuah langkah positif dan mengatakan bahwa pihak legislator akan melihat langkah – langkah lain yang akan diambil perusahan – perusahan teknologi tersebut agar lebih transparan.(hh)

Sumber