Hindari Sensor Netizen Tiongkok Gunakan Blockchain

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Para pengguna internet di Tiongkok telah memanfaatkan blockchain untuk membagikan berita yang disensor. Berita tersebut mengenai vaksin yang salah diberikan kepada bayi. Upaya mereka untuk mengirim kembali berita yang terkait dengan investigasi tentang pembuat vaksin selalu digagalkan oleh pengawas internet.

Seperti dilihat oleh TechNode, netizen di Tiongkok menggabungkan tulisan itu dalam metadata pada transaksi cryptocurrency. Ternyata cara yang ditempuh netizens Tiongkok itu telah berhasil mengelabui sensor interent.

Salah satu penyelidikan adalah melihat adanya sebuah pernyataan pemerintah yang menyatakan bahwa Changchun Changsheng Biotechnology yang berbasis di Shezhen telah memberikan bayi berusia tiga bulan dengan vaksin inferior.

Vaksin inferior ini berfungsi untuk meningkatkan sistem kekebalan manusia khususnya batuk dan tetanus, tetapi hasilnya tidak efisien. Changchun telah menggunakan produk vaksin berkualitas buruk hanya untuk meningkatkan margin keuntungannya, sehinga membuatnya menjadi pembuat vaksin terbesar Cina.

Sebagai tanggapan, banyak pengguna internet di Tiongkok menyampaikan pendapatnya di media sosial, mengekspresikan rasa tidak suka mereka dengan sistem vaksinasi yang korup dan tidak efisien.

Mereka juga mencoba untuk membuat tulisan berjudul “King of Vaksin”, yang ditulis oleh seorang pengguna internet dengan nama samaran “Beast,” tetapi setiap upaya untuk mem-posting tulisan tersebut tidak berlangsung lama, karena selalu dihapus oleh pengawas internet.

Oleh karena itu pada tanggal 22 Juli, pengguna internet menggunakan jaringan blockchain Ethereum. Dengan menggunakan satu alamat Ethereum dan mengirimkan 0,001 Ether atau sekitar 0,47 dolar ke dirinya sendiri dengan menempelkan teks tulisan ke dalam metadata transaksi yang tetap ada di buku besar umum, sehingga semua orang dapat melihatnya.

Karena Ethereum sistemnya tidak terpusat, sehingga sulit untuk ditembus, para pemantau internet di Beijing tidak dapat masuk dan tidak dapat memaksa pemilik jaringan untuk menghapus transaksi tersebut.

Ini adalah contoh kedua di mana pengguna internet di Tiongkok telah memanfaatkan blockchain untuk mengekspresikan nilai-nilai sosial serta keluhan mereka. Pada bulan April, seorang aktivis mahasiswa menggunakan blockchain Ethereum untuk memposting surat terbuka yang ditulis oleh seorang mahasiswa yang telah diintimidasi dan diancam oleh kampusnya untuk tidak berbicara tentang kekerasan seksual dan pelecehan.

Hingga saat ini, surat terbuka itu masih tetap ada di blockchain dan dapat dilihat semua orang. Kasus seperti ini memang sangat jarang terjadi di Tiongkok apalagi untuk tulisan yang berisikan hal yang menyatakan perbedaan pendapat.(hh)

Sumber