Instagram Mulai Blokir Aplikasi Pihak Ketiga

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Dampak dari adanya kontroversi Cambridge Analytica yang telah mendapatkan akses ke data Facebook dan memperoleh 50 juta data penggunanya, membuat Instagram mengambil tindakan dengan membatasi akses dari aplikasi pihak ketiga ke data penggunanya.

Seperti dilansir dari Foxnews, platform berbagi foto terpopuler itu memiliki lebih dari 800 juta pengguna yang aktif setiap bulannya dan telah dibeli oleh Facebook pada tahun 2012 dengan nilai transaksi sebesar 1 miliar dolar. Kini mereka membatasi akses ke data penggunanya dengan melakukan perubahan yang cukup mengejutkan pada API-nya.

Sejak Jumat minggu lalu, Instagram mulai mengurangi jumlah berapa kali pengembang dapat menarik data dari API-nya. Awalnya 5.000 penarikan data per jam menjadi hanya 200 penarikan data per jam. Selain itu mereka juga dilaporkan telah mengurangi akses sejumlah aplikasi ke API-nya secara menyeluruh.

Adanya pembatasan dalam menarik data melalui API artinya aplikasi dan pengembang yang perlu menarik data sepanjang waktu sudak tidak bisa lagi dilakukan. Dalam hal ini seperti melakukan analisa pada tagar (hashtag) atau memastikan apakah pengguna diikuti oleh followernya. Jadi apabila mereka menggunakannya dan telah mencapai batas yang ditentukan, maka aplikasi pihak ketiga tersebut akan berhenti bekerja.

API adalah singkatan dari Application Program Interface (program antarmuka aplikasi), yang terdiri serangkaian rutin, protokol, dan alat untuk mengembangkan aplikasi untuk sistem operasi tertentu. API memungkinkan programmer untuk menggunakan fungsi standar untuk berinteraksi dengan sistem operasi.

Adanya penemuan mengenai pengumpulan data Cambridge Analytica dari 50 juta akun telah memberikan pukulan besar bagi Facebook karena orang meminta diadakannya penyelidikan baru, membuat peraturan baru dan ditambah dengan adanya memo yang bocor ke publik membuat hal tersebut menjadi malapetaka pada pasar jejaring media sosial.

Tetapi bagi pemilik dan pengembang platform yang paling popule, hal ini sangat mengkhawatirkan karena hasil karya serta kreatifitas mereka menjadi terhambat dengan cara ini. Apabila Facebook dan Instagram tidak dapat mengomunikasikan perubahan kebijakannya dengan prosedur dan transparansi yang tepat, maka akan sulit untuk membayangkan bahwa itu telah tersusun dengan baik untuk mengimplementasikannya dengan tegas dan adil.(hh)

Sumber