Mayoritas Industri Keuangan Tidak Mempercayai Komputasi Awan

logo huawei

Meskipun terjadi revolusi digital di dunia keuangan, tetapi tampaknya para pelaku di industri keuangan masih ragu-ragu dengan teknologi komputasi awan. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Savoy Stewart 83 persen industri keuangan di seluruh dunia, tidak mempercayai komputasi awan, dan hanya 36 persen memahami teknologinya.

Survei yang telah dilakukan tersebut telah melakukan interview terhadap 6.000 profesional di enam negara dan lima industri yang menanyakan pendapat mereka tentang komputasi awan. Para profesional keuangan di seluruh dunia dari sektor mana pun yang disurvei – tidak percaya dengan komputasi awan, mereka masih merasa khawatir tentang kebocoran data dan kurangnya kontrol.

Sebagai perbandingan, di sektor perhotelan, hanya 5% dari mereka yang disurvei tidak percaya dengan penggunaan komputasi awan, dan hanya 31% dari sektor teknologi merasakan hal yang sama. Profesional keuangan di Italia adalah yang paling tidak percaya dengan komputasi awan (89%), diikuti oleh AS (88%), Inggris (85%), Jerman (83%), Spanyol (79%), dan Prancis (75%).

Survei ini diadakan setelah munculnya temuan Dewan Stabilitas Keuangan bahwa layanan cloud pihak ketiga dapat menciptakan risiko stabilitas keuangan baru, sebagian karena sifat pasar yang terkonsentrasi.

“Potensi konsentrasi dalam penyediaan pihak ketiga dapat mengakibatkan efek sistemik dalam kasus kegagalan operasional berskala besar atau kebangkrutan jika (lembaga keuangan) tidak mengelola risiko pihak ketiga dengan tepat di tingkat perusahaan,” seperti dilaporkan oleh FSB.

Lebih lanjut didalam Laporannya FSB menjelaskan bahwa lembaga keuangan dalam wilayah geografis yang sama cenderung menggunakan perangkat lunak yang sama. Dengan demikian, jika ada kelemahan keamanan dalam perangkat lunak, dan mereka dieksploitasi, itu dapat menciptakan kekacauan skala besar.

Namun, para pengembang telah menempatkan banyak langkah-langkah untuk membuat system keamanan ke dalam produk mereka, sehingga potensi masalah tidak boleh ditafsirkan sebagai alasan untuk menghindari perangkat lunak dari komputasi awan. Sebaliknya, perangkat lunak komputasi awan menawarkan sejumlah pemeriksaan keamanan dan protokol enkripsi untuk menghindari kemungkinan adanya potensi pelanggaran pada system keamanan.

Di dalam laporannya FSB bahkan mencatat bahwa pusat data tradisional bisa lebih rentan terhadap gangguan keamanan daripada layanan yang lebih baru dan menegaskan kembali bahwa potensi masalah yang mungkin timbul dengan layanan komputasi awan sering berasal dari masalah dengan hubungan pihak ketiga bukan dari perangkat lunak, atau jenis perangkat lunaknya itu sendiri.(hh)