Penelitian Temukan Bukti Sinyal Ponsel Sebabkan Kanker

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Sebuah penelitian di Amerika berhasil menemukan adanya “bukti yang jelas” bahwa sinyal ponsel menyebabkan timbulnya kanker.

Penelitian yang dilakukan oleh National Institute of Health (NIH), mengklaim radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker pada jantung, otak, dan kelenjar adrenal. Lembaga penelitian itu telah mempelajari efek radiasi di laboratoriumnya baik pada beras, tikus dan manusia sejak tahun 1999.

Hewan pengerat itu terpapar tingkat radiasi jauh lebih besar daripada manusia yang akan terpapar ketika menggunakan ponsel mereka namun para ilmuwan mengatakan bahwa keterkaitannya itu sangat jelas.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa pria khususnya perlu mengambil tindakan pencegahan terkait adanya tingkat paparan radiasi dari ponsel ketika mereka menerima ataupun pada saat melakukan panggilan telepon.

Sementara pada wanita, bukti pembentukan sel kanker masih samar-samar yang artinya ada peningkatan yang dapat diukur dalam molekul pada waktu yang dikaitkan dengan kanker, tetapi tidak ada bukti nyata yang ditemukan untuk mendukung hasil tersebut.

Ilmuwan senior Dr John Bucher di National Toxicology Program (NTP), di North Carolina, mengatakan bahwa eksposur yang digunakan dalam penelitian tidak dapat dibandingkan langsung dengan paparan yang dialami manusia ketika menggunakan ponsel.

“Dalam penelitian kami, tikus menerima radiasi frekuensi radio (RFR) di seluruh tubuh mereka. Sementara manusia sebaliknya, sebagian besar orang akan terpapar di jaringan lokal tertentu di dekat tempat mereka memegang telepon,” jelasnya.

“Selain itu, tingkat paparan dan durasi dalam penelitian kami lebih besar dari apa yang dialami oleh orang,” imbuhnya.

Penelitian tersebut telah menghabiskan biaya 30 juta dolardan dilakukan selama sepuluh tahun. Hasil studi yang baru dipublikasikan tersebut secara khusus melihat radiasi dari ponsel 2G dan 3G. Sementara tikus-tikus yang digunakan pada pengujian hanya terpapar radiasi selama dua tahun, yang merupakan masa usia kehidupan mereka.

Sementara itu, ahli toksikologi Michael Wyde melihat 5G adalah teknologi baru yang belum benar-benar ditentukan. Mungkin saja hasilnya akan berbeda secara dramatis dari apa yang telah dipelajari melalui penelitian tersebut.

Selain itu, paparan RFR yang digunakan dalam penelitian adalah intermiten, 10 menit aktif dan 10 menit dimatikan, jadi total ada sekitar sembilan jam setiap harinya.

Sumber