Serunya Dunia Coding di Hackathon Indonesia Android Kejar

Logo Telkom Indonesia Logo Telkomsel Indosat Ooredo Ads

Jakarta – Untuk menjadi seorang developer aplikasi tidak ada batasan usia. Seperti yang bisa kita lihat di acara seperti Hackathon Indonesia Android Kejar, ada juga peserta yang usianya masih sangat muda.

hanif-linux
Hanif dan Linux

Kedua peserta yang masih bisa dibilang belia tersebut adalah Karindra Rafi Linux (13 tahun) dan Muhammad Hanif Zuhdi (14 tahun). Mereka berdua statusnya masih siswa kelas 7 dan 8 SMP Negeri 1 Semarang.

Mereka menceritakan pengalaman mereka di dunia coding kepada detikINET, sebenarnya mereka masih baru dalam menekuninya. Walaupun belum ada sebulan mereka mempelajarinya tapi Hanif dan Linux sudah bisa merasakan serunya dunia coding.

Pada awalnya di sekolah Hanif aktif mengikuti ekstrakurikuler robotik. Tapi dia merasakan kegiatan tersebut tidak sesuai untuk dirinya. Maka diapun mencoba menggantinya dengan ekstrakurikuler komputer. Sedangkan Linux memang dari awal sudah aktif terlibat di dalam kegiatan ekstrakurikuler komputer.

Karena keduanya benar-benar serius menekuni coding maka guru ekstrakurikuler komputer mereka menginformasikan mengenai coding aplikasi melelui Google Indonesia Android Kejar. Ternyata Linux dan Hanif sangat suka dengan program yang diadakan oleh Google tersebut.

“Awalnya sulit, tapi justru itu membuat saya makin suka,” ujar Hanif kepada detikINET.

“Apalagi kalo sudah berhasil mecahin kodenya, seru banget rasanya,” tambah Linux.

Ketika mereka sudah mendapatkan ilmu di Indonesia Android Kejar, keduanya melanjutkan mencari ilmu secara online melalui internet. Banyak tutorial di internet yang sudah mereka pelajari.

“Tutorial coding banyak banget. Beda dengan robotik, tutorialnya sedikit dan tidak terlalu antusias kayak Android,” ujar Hanif.

Sampai saat ini mereka telah membuat beberapa aplikasi sederhana, seperti misalnya aplikasi resep masakan dan lain-lain. Nantinya mereka berkeinginan untuk mengembangkan aplikasi yang dapat diakses melalui Google Play Store.

Ketika ditanyakan mengenai cita – cita, Hanif mengatakan bahwa ia ingin menjadi seperti Dedi Gunawan, seorang ahli networking yang menjadi favoritnya. Kemudian ia juga ingin membangun sebuah startup dan menjadi seorang pengajar.

“Kalo kita punya ilmu tapi tidak dibagikan kan percuma. Jangan hanya untuk diri sendiri,” katanya kepada detikINET.

Sementara Linux, ingin memfokuskan dirinya menjadi seorang programer yang dapat mengembangkan sebuah aplikasi. Salah satu manfaat dari aplikasi yang dia buat nanti adalah dapat membantu para UKM.

“Banyak UKM di Indonesia mengalami kegagalan karena pemasarannya belum terlalu ahli. Nah, aplikasi yang akan saya buat untuk membantu mereka agar makin sukses dalam memasarkan produknya,” tutup bocah berkacamata kepada detikINET. (HH)