Peretas Gunakan Lampu untuk Sadap Percakapan

logo huawei

Berbagai upaya untuk memata-matai dilakukan melalui beragam cara oleh peretas. Siapa sangka, sebuah bola lampu sederhana ternyata bisa digunakan oleh seorang peretas untuk melakukan aktivitas memata-matai.

Hal pertama yang akan muncul di pikiran kita ketika memikirkan bagaimana cara peretas membobol privasi kita? Kita mungkin berfikir password yang kita gunakan lemah atau password kuat tapi dipakai dibeberapa akun secara bersamaan.

Tapi, bagaimana jika alat penerangan yang biasa digunakan di rumah dijadikan alat untuk meretas? Ya, Peretas menemukan cara baru untuk memata-matai orang atau menguping pembicaraan melalui bola lampu bahkan dari jarak 25 meter.

Dilansir dari situs web Forbes.com, para peneliti keamanan dari Universitas Ben-Gurion di Negev dan Institut Ilmu Pengetahuan Weizmann di Israel menemukan metode ini. Penelitian tentang peretasan ini bukanlah sesuatu yang unik, tahun lalu terungkap bahwa Alexa, Google Home, dan Siri mungkin sepakat penggunaan laser yang diarahkan ke microphone pada perangkatnya.

Penelitian ini lebih dari sekedar menghidupkan atau mematikan suatu perangkat dengan eksploitasi laser pointer. Para peretas ini tidak perlu menggunakan perangkat “pintar” untuk menyadap pada korbannya, selama ada bohlam lampu yang berada dalam ruangan yang sama, maka semua akan berjalan dengan lancar.

Ada pengecualian pada aturan eksploitasinya. Para peretas membutuhkan garis pandang yang bersih antara teleskop yang dilengkapi sensor elektro-optik, sehingga mereka dapat mengarahkannya ke bola lampu di ruangan tempat percakapan biasa berlangsung.

Metode ini tidak mudah dilakukan jika posisi bola lampu tertutup oleh gorden atau kap lampu, maka penyadapan seperti ini akan gagal. Ketebalan kaca atau output cahaya juga menjadi penentu berhasil atau tidaknya penyadapan tersebut.

Para peneliti mengatakan dapat mendengarkan percakapan dan musik dari jarak 25 meter dengan menggunakan teleskop dan converter analog-to-digital 24/32 bit dan jangkauannya bisa diperluas.

Suara kita pada dasarnya adalah gelombang suara. Fluktuasi pada tekanan udara yang ada pada permukaan bohlam lampu diciptakan dari suara percakapan atau musik, ini yang membuat bohlamnya bergetar.

Peretas dapat menangkap getaran yang disebabkan oleh suara dan mengubahnya menjadi audio melalui analog yang di converter ke digital. Para peneliti juga mengembangkan algoritma untuk metode serangan tersebut yang dinamai “Lamphone”. Metode ini dapat memulihkan suara dari pengukuran optik yang diperoleh dari getaran pada bohlam lampu.

Peretasan ini dilakukan secara pasif dan tanpa perlu berada dalam satu ruangan yang sama. Sementara unutk percakapannya, para peneliti menggunakan Google Cloud Speech untuk mentranskrip obrolan, dan untuk musik bisa dengan tepat diidentifikasi menggunakan Shazam dan SoundHound.(na/hh)